Langsung ke konten utama

Krisis di Columbia University: Protes Anti-Israel, Tuntutan Trump, dan Pencabutan Dana $400 Juta

Perguruan tinggi elit Amerika menghadapi konsekuensi berat akibat penanganan demonstrasi kampus yang kontroversial


Jakarta
- Gelombang protes anti-Israel yang melanda kampus-kampus Amerika Serikat pada 2024 telah mencapai titik kritis di Columbia University, New York. Konflik berkepanjangan ini berujung pada pencabutan dana federal sebesar $400 juta oleh pemerintahan Trump, memaksa universitas bergengsi tersebut untuk tunduk pada tuntutan presiden.

Kronologi Protes di Columbia University

Demonstrasi bermula pada 17 April 2024 ketika para mahasiswa mendirikan tenda-tenda di halaman utama kampus sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel di Gaza. Meskipun NYPD (Kepolisian New York) melakukan penangkapan massal pada 18 April, para demonstran kembali mendirikan tenda-tenda keesokan harinya.

Situasi semakin memanas pada akhir April 2024 ketika para demonstran menerobos masuk dan membarikade diri di dalam Hamilton Hall. Walikota New York, Eric Adams, mengungkapkan bahwa dari 282 demonstran yang ditangkap, 134 di antaranya tidak memiliki afiliasi dengan universitas.

"Ini bukan hanya masalah protes mahasiswa, tetapi ada pihak luar yang meradikalisasi mereka," ujar Adams dalam sebuah konferensi pers.

Tuduhan Antisemitisme dan Intimidasi

Kasus ini menjadi semakin kompleks karena adanya tuduhan antisemitisme. Dua petugas kebersihan Columbia mengklaim dalam gugatan hukum bahwa mereka terjebak dan diserang oleh demonstran di Hamilton Hall yang menyebut mereka "pecinta Yahudi", sehingga mengakibatkan cedera dan trauma.

Mario Torres, salah satu petugas kebersihan berkulit hitam, menyatakan bahwa ia telah menghapus begitu banyak lambang swastika di kampus sejak November 2023, setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Mahasiswa Yahudi melaporkan intimidasi di kampus, termasuk teriakan-teriakan antisemit di area kantin kosher dan pengucilan karena mengenakan kalung Bintang David.

Kegagalan Kepemimpinan dan Pengunduran Diri

Presiden Columbia University, Minouche Shafik, mendapat kritik keras atas penanganannya terhadap situasi tersebut. Dalam dengar pendapat di depan Kongres pada April 2024, Shafik tampak ragu-ragu ketika ditanya apakah seruan "From the river to the sea, Palestine will be free" termasuk pernyataan antisemitisme.

Tekanan terus meningkat hingga akhirnya pada 14 Agustus 2024, Shafik mengundurkan diri. Dalam pernyataannya, ia menulis: "Sebagaimana kata Presiden Lincoln, 'Rumah yang terpecah belah tidak dapat bertahan.' Kita harus melakukan segala upaya untuk melawan kekuatan polarisasi dalam komunitas kita."

Intervensi Pemerintahan Trump

Pada Maret 2025, Presiden Donald Trump mengambil langkah tegas dengan membatalkan dana federal sebesar $400 juta untuk Columbia. Pemerintahannya kemudian menyusun daftar tuntutan yang harus dipenuhi universitas jika ingin tetap menerima pendanaan federal.

Beberapa tuntutan tersebut meliputi:

  • Larangan penggunaan masker
  • Proses disiplin terhadap mahasiswa yang terlibat protes
  • Definisi formal antisemitisme
  • Reformasi proses penerimaan mahasiswa
  • Evaluasi pihak ketiga terhadap kurikulum studi Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika

Pada 21 Maret 2025, Columbia University mengumumkan akan memenuhi tuntutan tersebut, termasuk menempatkan Departemen Studi Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika di bawah pengawasan akademik selama minimal 5 tahun.

Deportasi dan Kontroversi Lanjutan

Pemerintahan Trump juga menindak para demonstran secara langsung. Mahmoud Khalil, mahasiswa pascasarjana Columbia, ditangkap oleh agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dan ditahan di Louisiana karena dugaan menyembunyikan hubungan dengan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina.

Kasus serupa terjadi pada Yun Seo Chung, mahasiswa junior Columbia asal Korea Selatan, yang terancam deportasi setelah ditangkap pada 5 Maret terkait protes di Barnard College.

Dampak dan Prospek Ke Depan

Konflik ini telah mengubah wajah pendidikan tinggi Amerika, memunculkan perdebatan tentang batas antara kebebasan berekspresi, antisemitisme, dan intervensi pemerintah dalam urusan akademik.

"Kami bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk mengeksekusi surat perintah penggeledahan dalam penyelidikan terhadap Columbia University karena menampung dan menyembunyikan imigran ilegal di kampusnya," ujar perwakilan pemerintah Trump. "Penyelidikan ini masih berlangsung dan kami juga menyelidiki apakah penanganan Columbia terhadap insiden sebelumnya melanggar undang-undang hak sipil dan termasuk kejahatan terorisme."

Sementara perang Israel di Gaza terus berlanjut dengan korban jiwa Palestina yang dilaporkan telah mencapai lebih dari 50.000 orang pada Maret 2025, ketegangan di kampus-kampus Amerika kemungkinan akan terus berlanjut, dengan Columbia University menjadi episentrum perdebatan tentang kebebasan akademik, antisemitisme, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabrakan Kereta Api di Yunani Tewaskan 26 dan Lukai 85 Orang

Sebuah kereta penumpang dan kereta barang yang melaju terlibat dalam tabrakan dahsyat di Yunani utara pada Rabu pagi. Tabrakan tersebut mengakibatkan 26 korban jiwa dan 85 luka-luka, menurut pejabat Dinas Pemadam Kebakaran. Beberapa mobil tergelincir dan setidaknya tiga terbakar setelah tabrakan di dekat Tempe. Petugas rumah sakit di Larissa melaporkan bahwa sedikitnya 25 orang mengalami luka serius. Tim penyelamat yang memakai lampu kepala bekerja di tengah asap tebal untuk menarik potongan logam yang hancur dari gerbong rel untuk mencari orang yang terjebak. Penumpang yang mengalami luka ringan atau tidak terluka diangkut dengan bus ke Thessaloniki. Tabrakan itu digambarkan sebagai "sangat kuat" dan "malam yang mengerikan" oleh Costas Agorastos, gubernur wilayah Thessaly. Operator kereta melaporkan bahwa kereta penumpang tujuan utara dari Athena ke Thessaloniki memiliki sekitar 350 penumpang saat tabrakan terjadi.

Kebocoran Lab 'Kemungkinan Besar' Asal-Usul COVID, Menurut Laporan

Asal-usul COVID-19 masih belum bisa diketahui dengan pasti, tetapi Departemen Energi AS dilaporkan yakin bahwa virus tersebut kemungkinan besar merupakan hasil dari kebocoran laboratorium di China. Menurut The Wall Street Journal, penilaian tersebut dibuat dengan "keyakinan rendah" dan belum dikonfirmasi oleh pemerintah AS. Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, mengatakan bahwa "saat ini belum ada jawaban pasti" dari komunitas intelijen tentang asal usul virus. Empat elemen komunitas intelijen AS mengatakan pada tahun 2021 bahwa mereka memiliki "keyakinan rendah" COVID-19 awalnya menyebar dari hewan ke manusia, sementara satu elemen menilai dengan "keyakinan sedang" bahwa infeksi manusia pertama adalah hasil dari " insiden terkait laboratorium, mungkin melibatkan eksperimen, penanganan hewan, atau pengambilan sampel oleh Institut Virologi Wuhan." Organisasi Kesehatan Dunia semakin menerima kemungkinan bahwa virus t...

Kepala Polisi Stockholm Ditemukan Tewas Setelah Ada yang Laporan yang Mengkritiknya

Seorang perwira polisi senior Swedia ditemukan tewas di rumahnya, beberapa jam setelah rilis laporan internal yang menemukan konflik kepentingan terkait keputusan yang dia buat tentang mantan karyawan yang memiliki hubungan dengannya, kata polisi. Mats Löfving, kepala polisi di wilayah Stockholm, ditemukan tewas di rumahnya di kota Norrkoping, kata polisi. Dia berusia 61 tahun. Penyebab kematian belum jelas dan polisi melakukan penyelidikan sebagai prosedur standar. Perilaku Löfving sedang ditinjau baik oleh audit internal maupun investigasi kriminal, dalam kasus yang mengguncang kepemimpinan polisi Swedia dan menjadi berita utama di seluruh negara Skandinavia. Penyelidikan berfokus pada hubungannya dengan seorang karyawan wanita saat dia menjadi kepala Departemen Operasi Nasional kepolisian. Investigasi internal pada Rabu menemukan adanya konflik kepentingan saat Löfving membuat keputusan terkait gaji dan posisi karyawan. Penyelidik mengatakan bahwa keputusan tersebut menimbulkan...