Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...
Presiden Iran menyebut pemindahan ibu kota bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Bendungan-bendungan utama kini tinggal menyisakan air di dasar kolam, sementara 10 juta penduduk Tehran terancam krisis air yang belum pernah terjadi sebelumnya. TEHRAN - Erfan Ensani pulang ke rumahnya di Tehran setelah seharian bekerja di pasar tekstil pusat kota. Namun setibanya di rumah, ia menemukan keran air tidak mengeluarkan setetes pun. Bukan karena pipa rusak atau listrik mati. Tehran, ibu kota Iran dengan 10 juta penduduk, memang tengah kehabisan air. "Ada kelangkaan air!" begitu bunyi poster pemerintah yang kini menghiasi dinding-dinding kota, biasanya tempat untuk memajang para pahlawan perang. "Ini musim gugur tapi masih belum ada hujan." Peringatan itu bukan sekadar himbauan. Iran tengah menghadapi krisis air terparah dalam 60 tahun terakhir. Bahkan Presiden Masoud Pezeshkian sudah memperingatkan kemungkinan evakuasi massal jika hujan tidak turun sebelum akhir tahun. ...